Negara Islam: Prof Dr. Hamka, Kalam Murabbi

Hamka. Sebuah nama yang sudah tidak asing lagi bagi orang Melayu

Negara Islam: Prof Dr. Hamka, Kalam Murabbi

RahmatullahHamka. Sebuah nama yang sudah tidak asing lagi bagi orang Melayu dan mereka yang suka mempelajari kitab-kitab pemikiran Melayu.

Seorang anak Melayu kelahiran Minangkabau yang merupakan salah satu pemikir Melayu yang paling disegani pada abad ke-20.

Ide dan kritik yang disampaikannya didasarkan pada keyakinannya bahwa perlunya tajdid di dunia Islam.

Isi Kandungan Buku

"Tujuan mendirikan pemerintahan sudahlah nyata yaitu memelihara keamanan dan ketenteraman umum, melindungi keselamatan rakyat di dalam lingkungan pemerintahan itu termasuklah jiwanya dan harta bendanya." (m/s 86)

Itu merupakan kalam Hamka di dalam buku beliau, Negara Islam.

Secara asasnya, Hamka ingin menggariskan konsep keadilan di dalam pemerintahan dalam Islam yang sebenar berlandaskan al-Quran dan Sunnah. Keadilan yang membawa kepada pengabdian yang sepenuhnya kepada Allah.

Untuk menjelaskan tentang konsep ini, Hamka memberikan dalil-dalil daripada al-Quran dan Sunnah yang membicarakan berkaitan keadilan di dalam pemerintahan.

Hamka juga menelusuri sejarah bagaimana peradaban Islam terbina atas keadilan yang diterangkan di dalam al-Quran dan Sunnah. 

Sejarah peradaban Islam yang dimulai pada zaman para rasul hingga berakhirnya masa khilafah. Konflik yang terjadi di negara-negara Islam saat ini tentang pemahaman dan penghidupan keadilan juga menjadi perdebatan.

Hamka juga mengkritik gagasan-gagasan Barat yang berusaha 'diislamkan' yang pada kenyataannya hanya mendatangkan tirani dalam pemerintahan. Diantaranya adalah Sosialisme Islam, Komunisme Islam, dan Imperialisme Islam.

Konsep-konsep yang dikonstruksikan tersebut bukanlah sebuah jalan keluar yang mampu menghadirkan keadilan, namun justru hanya sekedar kesengsaraan yang berkepanjangan.

Hamka menyatakan bagaimana keberadaan masyarakat dan pemimpin yang mulai menunggangi kata-kata keadilan dalam pemerintahan menjadi penyebab runtuhnya suatu peradaban dan negara. 

Ada beberapa pemerintahan yang menggunakan Al-Qur'an, Sunnah dan para ulama untuk membenarkan tindakan mereka yang jelas-jelas bertentangan dengan keadilan sejati.

Dari kritik tersebut, Hamka menyatakan perlunya upaya komprehensif untuk 'merevisi' metode berpikir dan metode praktik dalam pemerintahan. 

Mengesampingkan keadilan palsu dan menerima keadilan sejati berdasarkan Al-Qur'an dan Sunnah adalah hal yang perlu. Inti dari negara yang besar adalah ketika Al-Qur’an dan Sunnah ditempatkan sebagai sumber eksistensi keadilan.

Kata Hamka:

"Di Daulah Islam ada keadilan dan kebenaran yang kuat melindungi yang lemah dan yang lemah mendapat perlindungan dari yang kuat. Di Daulah Islam kedamaian melindungi seluruh warga negara, sehingga seorang remaja putri berjalan sendirian dari Hira' ke tanah suci Mekah tanpa berteman"  (m/s 217)

1 comment